Rabu, 23 Januari 2013

Keterampilan pemetaan



PENGERTIAN PETA
Di jaman yang semakin maju ini  peta menjadi alat bantu yang sangat dibutuhkan dalam perencanaan pembangunan diberbagai bidang, seperti bidang pertanahan, pertanian, perkebunan, industri dan perdagangan, pelayaran, penerbangan, pendidikan, tata ruang wilayah, politik dan keamanan, dan lain-lain. Terlebih untuk peta-peta tematik yang sifatnya lebih khusus dan spesifik, sudah menjadi kebutuhan hampir setiap lembaga, lebih-lebih yang bergerak di bidang perencanaan dan pembangunan suatu wilayah dalam skala lokal, regional, nasional dan internasional.
Pada hakekatnya peta adalah sebuah alat peraga (Sandy, 1986), karena melalui peta seseorang akan dapat menyampaikan sesuatu ide kepada orang lain. Ide tersebut dapat berupa gambaran tentang bentuk-bentuk muka bumi, distribusi penduduk, penggunaan lahan di suatu tempat, kesuburan tanah, kedalaman air laut, penyebaran iklim, dan lain-lain yang terutama berkaitan dengan aspek keruangan (spasial).
Peta adalah gambaran konvensional dari permukaan bumi yang diperkecil dengan menggunakan skala dan digambar di atas bidang datar sebagai kenampakan jika dilihat dari atas dan ditambah dengan tulisan sebagai identitas.
Untuk mempelajari seluk beluk penggambaran permukaan bumi atau peta diperlukan pengetahuan khusus yang mempelajari tentang peta yang dinamakan Kartografi
KLASIFIKASI PETA
1. Berdasarkan skala
  •  Peta kadaster,  berskla 1 : 100 –  1 : 5.000
  • Peta skala besar,  berskala  1 : >5.000 -  1 :  250.000
  • Peta skala sedang, berskala 1 : >250.000 -  1 : 500.00
  • Peta skala kecil, beskala  1 : > 500.000 -  1 : 1.000.000
  • Peta geografi, berskla  1 : > 1.000.000
2. Berdasarkan Isinya
  • Peta umum : peta yang menggambarkan segala sesuatu yang ada dalam suatu daerah yang dipetakan. Contoh : peta topografi, peta chorografi, peta dunia
  • Peta khusus/ tematik : peta yang hanya menggambarkan kenampakan tertentu saja atau menggambarkan satu aspek saja. Contoh peta kepadatan penduduk, peta geologi, peta navigasi, peta pariwisata, peta kontur dll 
3.  Berdasarkan bentuk
  • Peta foto : yang dihasilkan dari mosaik foto udara/ortofoto yang dilengkapi garis kontur, nama, dan legenda.
  • Peta garis : peta yang menyajikan detail alam dan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan. Misal: peta rupa bumi (topografi), peta tematik.
KOMPONEN-KOMPONEN PETA
 a.      Judul Peta
Judul peta mencerminkan isi dan tipe peta. Judul biasanya dicantumkan di bagian atas  peta dengan huruf besar. Fungsi judul adalah menunjukkan daerah yang digambarkan oleh peta tersebut.
b.      Orientasi Peta/ Penunjuk Arah
Merupakan gambar penunjuk arah mata angin, pada umumnya peta berorientasi Utara, diletakkan di sudut kanan atas atau tempat lain yang kosong  
c.       Skala
Skala adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara jarak di peta dengan jarak yang sebenarnya di permukaan bumi. Secara umum skala dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1)      Skala angka/numerik
Skala yang berupa angka-angka. Misalnya skala peta  1: 200.000, skala peta 1 : 1.000.000 dan sebagainya
2)      Skala Garis/Grafik
Skala yang ditunjukkan dengan membuat garis linier dengan membuat perbandingan pada setiap ruasnya.
Contoh
0                1                   2                   3
3) Skala kalimat/verbal
Skala Yang menggunakan kalimat baku sebagai pentunjuk skala. Jenis skala ini banyak dipakai di Eropa yang biasanya menggunakan satuan inchi dan mil.
Contoh : One Inch to two miles
  1. d.      Legenda/keterangan
Legenda adalah keterangan yang penting yang memberikan keterangan dan penjelasan tentang simbol-simbol yang terdapat pada peta.
  1. e.       Garis koordinat astronomi
Garis ini diperlukan untuk mengetahui letak astronomi suatu tempat. Biasanya terdiri dari garis bujur dan garis lintang yang dituliskan di tepi peta dengan menujukkan berapa derajat, berapa menit dan berpa detik.
  1. f.       Lattering/tata tulis
Adalah tata tulis tulisan dan angka. Secara umum penulisan suatu obyek pada obyek daratan ditulis dengan huruf tegak, sedangkan simbol obyek perairan ditulis dengan huruf miring.
  1. g.      Sumber dan Tahun pembuatan
Sumber peta sangat penting, terutama untuk peta thematik. Sedangkan tahun pembuatan sangat penting mengingat ada tidaknya obyek pada waktu pembuatan sekarang ataua kemudian ahri akan berubah baik medan yang alami maupun medan buatan
  1. h.      Inset
Inset adalah peta kecil yang berfungsi memberikan tekanan atau penjelasan pada peta utama. Sehingga akan memperjelas dan mempertajam informasi peta utama.
  1. i.        Garis tepi
Berfungsi mempermudah dalam membuat peta. Biasanya dibuat rangkap dua
  1. j.        Tata warna
Tata warna sangat penting jika peta yang dibuat adalah peta berwarna. Fungsi warna  adalah sebagai berikut :
1)      membedakan tinggi rendahnya suatu daerah dan kedalaman laut
2)      memberikan kualitas dan kuantitas peta
3)      keindahan ( estetika)
  1. k.      simbol
Simbol adalah tanda atau lambang yang mewakili obyek di permukaan bumi yang terdapa pada peta. Mengingat pentingnya materi ini, maka simbol disajikan pada bagian tersendiri sebagai berikut.
Peta dianggap baik dan benar (Sandy ,1986:1-2) setidaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:ü  peta tidak boleh ‘membingungkan’ü  mudah dipahami atau dimengerti, sehingga tidak boleh serumit kenampakan aslinyaü  menggambarkan cukup teliti sesuai temanyaü  indah dipandangAgar peta tidak membingungkan bagi para pengguna, maka peta harus dilengkapi dengan: legenda/keterangan, skala peta, judul peta, inset peta.Agar peta mudah dimengerti/ditanggkap maknanya  oleh pengguna peta, maka peta harus menggunakan: tata warna, simbol, proyeksi peta.  Sedangkan dalam aspek ketelitian peta sangat terkait dengan tujuan peta dan jenis peta serta skala peta yang akan dibuat.



Fungsi dan Tujuan Pembuatan Peta
Fungsi:
  • Menunjukkan posisi atau lokasi relatif (letak suatu tempat dalam hubungannya dengan tempat lain di permukaan bumi).
  • Memperlihatkan ukuran (dari peta dapat diukur luas daerah dan jarak-jarak di atas permukaan bumi).
  • Memperlihatkan bentuk (benua, negara, provinsi, gunung, lembah, dll).
  • Mengumpulkan dan menyeleksi data-data dari suatu daerah dan menyajikan di atas peta, melalui media simbol.
Tujuan pembuatan peta
  • Untuk komunikasi informasi ruang
  • Untuk menyimpan informasi
  • Untuk membantu pekerjaan: konstruksi jalan, navigasi, perencanaan, media pembelajaran.
  • Untuk membantu dalam suatu desain, misal: desain tata ruang wilayah, jalan, dll.
  • Untuk analisis data spatial, misal: perhitungan volume, evaluasi lahan, dll.
 a.      Judul Peta
Judul peta mencerminkan isi dan tipe peta. Judul biasanya dicantumkan di bagian atas  peta dengan huruf besar. Fungsi judul adalah menunjukkan daerah yang digambarkan oleh peta tersebut.
  1. b.      Orientasi/arah
Biasanya merupakan gambar arah mata angin  dengan arah utara sebagai pedoman sehingga tidak mengganggu informasi yang ada di dalam peta.
  1. c.       Skala
Skala adalah perbandingan antara jarak yang terdapat pada peta dengan jarak yang sebenarnya di permukaan bumi. Secara umum skala dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1)      Skala angka/numerik
Skala yang berupa angka-angka. Misalnya skala peta  1: 200.000, skala peta 1 : 1.000.000 dan sebagainya
2)      Skala Garis/Grafik
Skala yang ditunjukkan dengan membuat garis linier dengan membuat perbendingan pada setiap ruasnya.
Contoh
0                1                   2                   3
3) Skala kalimat/verbal
Skala Yang menggunakan kalimat baku sebagai pentunjuk skala. Jenis skala ini banyak dipakai di Eropa yang biasanya menggunakan satuan inchi dan mil.
Contoh : One Inch to two miles
  1. d.      Legenda/keterangan
Legenda adalah keterangan yang penting yang memberikan keterangan dan penjelasan tentang simbol-simbol yang terdapat pada peta.
  1. e.       Garis koordinat astronomi
Garis ini diperlukan untuk mengetahui letak astronomi suatu tempat. Biasanya terdiri dari garis bujur dan garis lintang yang dituliskan di tepi peta dengan menujukkan berapa derajat, berapa menit dan berpa detik.
  1. f.       Lattering/tata tulis
Adalah tata tulis tulisan dan angka. Secara umum penulisan suatu obyek pada obyek daratan ditulis dengan huruf tegak, sedangkan simbol obyek perairan ditulis dengan huruf miring.
  1. g.      Sumber dan Tahun pembuatan
Sumber peta sangat penting, terutama untuk peta thematik. Sedangkan tahun pembuatan sangat penting mengingat ada tidaknya obyek pada waktu pembuatan sekarang ataua kemudian ahri akan berubah baik medan yang alami maupun medan buatan
  1. h.      Inset
Inset adalah peta kecil yang berfungsi memberikan tekanan atau penjelasan pada peta utama. Sehingga akan memperjelas dan mempertajam informasi peta utama.
  1. i.        Garis tepi
Berfungsi mempermudah dalam membuat peta. Biasanya dibuat rangkap dua
  1. j.        Tata warna
Tata warna sangat penting jika peta yang dibuat adalah peta berwarna. Fungsi warna  adalah sebagai berikut :
1)      membedakan tinggi rendahnya suatu daerah dan kedalaman laut
2)      memberikan kualitas dan kuantitas peta
3)      keindahan ( estetika)
  1. k.      simbol
Simbol adalah tanda atau lambang yang mewakili obyek di permukaan bumi yang terdapa pada peta. Mengingat pentingnya materi ini, maka simbol disajikan pada bagian tersendiri sebagai berikut.
  1. 1.         Komponen Peta
Apabila anda cermati atau perhatikan pada setiap peta-peta, di dalamnya kita jumpai berbagai komponen yang menjadi bagian atau kelengkapan peta, seperti: judul peta, skala peta, simbol, keterangan/legenda, koordinat geografis, orientasi/arah, inset peta, dan lain-lain. Komponen peta tersebut merupakan bagian penting dan salah satu persyaratan dari sebuah peta yang baik. dan benar.
Ada beberapa perbedaan antara komponen peta umum (Rupabumi/topografi) dan  peta khusus atau peta tematik.  Pada peta umum komponen peta lebih kompleks dan standar atau baku. Sebagai contoh Peta Rupabumi telah memiliki standar baku (berdasarkan konvensi), dimana baik jenis informasi tepi, komposisi, desain tata letak, tata warna maupun  simbol-simbol yang digunakan relative sama/seragam.
Namun untuk peta khusus atau peta tematik komponen petanya lebih sederhana dan cukup bervariasi antara satu peta dengan peta yang lain.  Tidak ada ketentuan baku yang mengharuskan sebuah peta tematik satu dengan peta yang lain harus sama komponennya misalnya dalam hal tata letak atau posisi informasi tepi, tata warna dan lain-lain.
Gambar 1. Contoh Peta RBI dan komponen informasi tepi



Komponen-komponen peta tematik



Gambar 3. Komponen informasi tepi peta tematik
LANGKAH-LANGKAH PEMETAAN
Pemetaan adalah kegiatan pemrosesan data survai sampai menyajikannya menjadi geo-informasi. Artinya bahwa pemetaan dapat dibuat di laboratorium/ studio atau di lapangan.
Bagaimana caranya?
  1. Secara fotogrametri akan menghasilkan peta dasar.
  2. Secara inderaja akan menghasilkan peta tematik.
Lalu, apa itu survai?
Survai adalah kegiatan pengumpulan data.
Bagaimana caranya?
Dapat dilaksanakan melalui:
  1. Pengukuran (measurement) atau pengamatan (observation).
  2. Penginderaan (sensing) dari udara (airbone) atau antariksa (spaceborne)

Perbedaan fakta dan data:







Perempuan (memiliki ciri laki-laki):
- rambut pendek
- langkah tegap
- suara lantang















Laki-laki (memiliki ciri perempuan):
- rambut panjang
- jalan gemulai
- pakai anting









Jadi, fakta itu benar, sedangkan data bisa benar atau salah.

  1. 1.          Pembuatan Peta Dasar Untuk Peta
Apabila kita ingin membuat peta tematik, maka sebelumnya kita perlu menyiapkan peta dasar.  Peta dasar merupakan peta  kerangka letak/lokasi yang nanti akan dilengkapi atau diisi dengan data-data sesuai dengan
(surve terristris)
isi/tema peta yang akan digambar. Untuk memperoleh peta dasar tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara,  yaitu:
ü  peta dasar dari pengukuran sendiri
di lapangan/lokasi  yang akan dipetakan ﻟ?
Gambar 4. Seorang sedang melakukan pengukuran dengan alat ukur (GPS)
( survey terristris).








ü  peta dasar dari kerangka peta yang telah tersedia/tergambar dipeta rupabumi (RBI), Atlas, Peta dinding, atau Globe.
ü  Gambar 5. Seseorang sedang ngeblad peta

Dalam era kemajuan teknologi informasi (TI) proses pembuatan peta telah terbantu, sehingga untuk melakukan pemetaan suatu wilayah dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Pemanfaatan peta dasar yang dahulu banyak bersumber dari peta rupabumi, sekarang sudah banyak yang beralih menggunakan citra penginderaan jauh.
Citra penginderaan jauh yang banyak digunakan sebagai sumber peta dasar adalah; citra foto udara, citra satelit Landsat, citra satelit Spot, citra satelit Ikonos, dan citra satelit Quickbird. Dengan menggunakan citra penginderaan jauh, gambaran muka bumi yang akan dipetakan akan dapat memberikan data dan informasi yang terkini. Kenampakan-kenampakan obyek fisik, sosial dan budaya beserta batas-batas administratif maupun  batas geografis  akan tampak. Dengan demikian kerangka letak  (sebagai peta dasar) mudah dilacak atau ditelusuri lewat citra tersebut (lihat  gambar  12. citra penginderaan jauh).
Gambar 6. Contoh Peta Dasar








Untuk membuat peta dasar dapat dilakukan dengan membuat pemba-tas garis (deliniasi) terhadap obyek yang akan kita gambar. Jika sumber citra penginderaan jauh dapat langsung kita gambar;  Jika dari sumber peta rupabumi dan skalanya.


berbeda  bisa melalui bantuan pantograf    Jika mempunyai sarana komputer  yang dilengkapi software (perangkat lunak) program berbasis peta, maka langsung dapat dilakukan dijitasi pada obyek di layar monitor (digitasi on screen)  atau dengan  meja digitizer.
.
  1. 2.     Penetuan Arah / orientasi peta
Perlu kita ketahui bahwa orientasi atau penunjukkan arah pada peta, tidak selamanya peta berorientasi utara (utara di sebelah atas). Kadang ada pula peta berorientasi selatan, barat, atau timur, sesuai dengan kepentingannya.  Selain itu pula perlu diperhatikan bahwa utara yang dipakai dalam peta ada tiga arah utara yaitu:  utara geografis, utara magnitis, dan utara meridian. Utara geografis (true north/TN/US) adalah utara yang melalui kutub utara dan kutub selatan bumi. Utara magnitis (magnetic north/MN/UM) adalah utara yang melalui kutub magnit bumi. Sedangkan Utara Meridian (Grid North/Meridian North/GN/UTM) adalah utara yang sejajar dengan meridian sentral dan tegak lurus standar paralel setempat.
Dalam implementasinya di dalam pembuatan peta kita dapat menggunakan ketiga-tiganya (Peta RBI), tetapi juga dapat diambil salah satu dari padanya. Sebab jika suatu tempat satu sudah diketahui arahnya, maka arah yang lain dapat diketahui pula.
Contoh arah dalam Peta RBI Tegal Lembar 1309-314
US = Utara Sebenarnya (Geografi)
UG= Utara grid (UTM)
UM= Utara magnetik
UM      US      UG
150
130



  1. 3.      Merancang Simbol Peta Tematik
Gambar7. Merancang Simbol
Setelah kerangka letak/lokasi tersedia, maka langkah selanjutnya adalah melakukan perancangan simbol-simbol yang akan digunakan untuk penggambaran peta tematik.  Perlu diketahui bahwa peta adalah suatu media komunikasi grafis, dengan demikian informasi yang ditampilkan dalam peta berupa simbol-simbol.  Bahkan untuk peta tematik, simbol merupakan informasi pokok, karena untuk menunjukkan tema suatu peta.  Hal-hal yang penting dalam merancang simbol peta tematik, antara lain: menentukan jenis simbol, besaran/ukuran simbol, warna simbol, jumlah simbol dan posisi simbol akan diletakkan.
SIMBOL YANG BAIK:
kecil
terang/jelas
mudah digambar



DATA PETA TEMATIK:
data primer : surve lang-sung lapangan;
data sekunder: dari kan-tor statistik, buku-buku laporan.
Simbol yang baik adalah yang mudah dikenal  sekalipun tanpa menggunakan suatu keterangan/legenda. Selain itu simbol hendaknya  kecil, terang, dan mudah digambar. Dalam pemetaan tematik  penggambaran simbolnya tidaklah seketat pada simbol peta-peta umum atau peta Rupabumi (RBI).
Simbol peta tematik lebih sederhana dan dibolehkan untuk merancang simbol sendiri sepanjang simbol tersebut memiliki relevansi dengan unsur atau obyek yang digambarkan.  Sedangkan symbol untuk peta umum (RBI atau Topografi) sudah ada pembakuan secara khusus (seragam berdasarkan konvensi asosiasi kartografi Internasional).
Telah kita ketahui bersama bahwa peta merupakan citra geospasial yang dapat mempengaruhi konsepsi orang tentang ruang  Pengaruh peta ini sebagian karena adanya kesepakatan konvensi dan sebagian lain karena adanya karakteristik umum grafik yang digunakan. Konvensi memegang peranan penting terutama dalam pemetaan topografis. Sebagian besar symbol yang digunakan dalam peta RBI atau topografi telah diwariskan kepada kita semenjak abad 18. Di antara konvensi tersebut adalah bahwa perairan digambarkan dengan warna biru, hutan dengan hijau tua, daerah permukiman dan perkotaan disimbolkan dengan warna merah, abu-abu, atau warna merah jambu.
Data yang harus divisualisasikan akan selalu mengacu kepada obyek atau fenomena nyata. Ia dapat dalam bentuk ketinggian yang diukur sepanjang jaringan lalu lintas, jumlah penduduk yang tinggal di daerah tersebut, atau volume sebuah bukit dalam ribuan meter kubik.
Dalam kartografi  kita menggunakan simbol titik (dot), symbol garis (dash) dan simbol bidang (patches) untuk mempresentasikan lokasi dan atribut-atribut data titik, garis, wilayah dan volume obyek.                                          
                    
Contoh simbol Peta Umum (Rupabumi)



Contoh simbol Peta Tematik


Simbol titik kualitatif dan kuantitatif


Simbol garis kualitatif dan kuantitatip





Simbol area kualitatif dan kuantitatip
Persoalan penting lagi yang perlu diperhatikan ketika akan merancang simbol peta tematik   adalah melakukan analisis data-data sekunder atau data primer yang akan dituangkan ke dalam peta. data sekunder biasanya berupa data-data statistik yang telah tersedia di buku-buku laporan BPS. Sedangkan data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan secara langsung di lapangan oleh si pembuat peta.  Pada saat melakukan analisis data tersebut  harus dikaitkan secara langsung dengan unsur, besaran  dan sifat data yang akan dipetakan. Apakah unsur data  berupa unsur buatan manusia (man made features), unsur perairan (hydrography), unsur relief (hypsography), atau unsur tumbuh-tumbuhan (vegetation). Sedangkan besaran data sangat tergantung data sekunder atau data statistik yang tersedia; ditinjau dari sifatnya, data dapat berupa data kuantitatif maupun data kualitatif .


Latihan 1
Nama Tugas       :  Menggambar peta
Alat/bahan           :  Kompas Azimut, pita ukur, kertas manila, pensil,
                                   penggaris, busur derajat, karet penghapus.
Intruksi                :  Buat gambar kerangka peta (peta dasar) dengan cara   pengu-kuran  lapangan; lokasi kegiatan di sekitar halaman sekolah; waktu 35 menit.
Bentuk Tugas    :  Kelompok (per kelompok terdiri 3 orang siswa).
Tagihan                                :  Paparan di depan kelas

  1. 4.    
    Gambar 8. Tata letak Model A
    Tata letak /layout Peta Tematik
Merancang tata letak peta merupakan tahapan kerja yang penting diperhatikan bagi setiap orang yang akan menggambar peta. Hal itu dimaksudkan agar peta benar-benar komunikatif, mudah dibaca dan ditafsirkan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengguna peta.
Adapun unsur-unsur peta yang perlu ditata posisinya adalah: judul peta, skala peta, keterangan/legenda,  koodinat lintang dan bujur, inset peta, sumber data, dan informasi-   informasi lain.  Unsur-unsur tersebut sedapat mungkin ditempatkan pada komposisi yang seimbang (balance) dalam tata letak informasi tepi. Selain itu ukuran huruf (text), tipe huruf (style) perlu dipertimbangkan besar-kecilnya.
Pada umumnya peta tematik meng-gambarkan daerah yang berbentuk pulau, propinsi, kabupaten, kecama-tan, desa, suatu negara atau dapat pula kawasan hutan, daerah aliran sungai, dan lain-lain. Daerah atau wilayah tersebut memiliki variasi bentuk  kerangka letak yang berma-cam-macam.  Oleh karena itu penyu sunan tataletak informasi tepi peta harus menyesesuaikan, dengan tetap berpedoman pada prinsip keseim-bangan.

Gambar 8, dan 9 adalah contoh tata letak dalam peta tematik.








  1. Judul peta
  2. Skala
  3. Petunjuk arah
  4. Legenda/keterangan
  5. Sumber peta
  6. Pembuat peta
  7. Koordinat geografis
  8. Inset peta

7
5
5
6


Latihan 2
Buatlah gambar bentuk wilayah suatu tempat secara sembarang, kemudian susunlah tata letak peta sebagaimana prinsip-prinsip yang telah dijelaskan di muka. Pekerjaan cukup dengan menggunakan kertas dalam buku skrip/catatan masing-masing. Waktu yang disediakan 15 menit, dikerjakan secara individual
  1. 5.     Pencetakan Peta
            Setelah pekerjaan ploting simbol dan penyusunan komposisi informasi peta dilakukan, dan sudah dianggap cukup, maka dilakukan pencetakan peta.  Teknologi pencetakan peta ternyata sekarang mengalami kemajuan yang luar biasa. Dahulu bila ingin mencetak atau menggandakan peta, maka diperlukan proses yang relatif panjang, karena harus melewati proses pembuatan film terlebih dahulu. Sekarang cetak peta dapat dilakukan tanpa film. Berkat kemajuan teknologi dijital  gambar peta dapat langsung dicetak dengan biaya yang relatif lebih efisien dan kualitas hasil peta yang lebih bagus.
   Gambar 07.  Alat Pencetak Peta Teknologi Dijital
Gambar 10. Plotter
Pada awal sebelum adanya kemajuan teknologi kom-puter, penggambaran dan pencetakan peta dilakukan secara manual (digambar tangan manusia). Hal itu tentu memerlukan waktu yang relatif lebih lama dan hasilnyapun kurang sempurna. Jumlah dan jenis peta tematik dipasaran belum banyak bila dibanding deng-an peta-peta umum. Peta tematik biasanya dibuat ber-dasarkan atas kepentingan yang lebih khusus, antara pengguna satu dengan yang lain belum tentu sama.
Gambar  11.  Proses Tahapan Langkah Pemetaan Tematik









                                                               











                                                                               
                                                                     ANALISIS DATA
                    (sekunder & primer)           
               
                 
DESAIN TATA-LETAK DAN
                   PLOTTING SIMBOL




PETA TEMATIK

 



SKALA PETA
Secara sederhana skala peta merupakan perbandingan jarak horizontal kedua titik sembarang di peta dengan jarak horizontal kedua titik itu dipermukaan bumi (dengan satuan ukuran yang sama). Namun ada sesuatu pemahaman terhadap skala yang lebih dari sekedar perbandingan jarak, yakni bahwa skala peta juga dapat memberikan makna pada tingkat kedetilan peta. Dalam arti, bahwa semakin besar skala peta, maka tingkat ketetilan peta akan semakin tinggi, sebaliknya semakin kecil skala peta, maka tingkat kedetilannya juga semakin rendah.
Batasan antara peta berskala besar, menengah dan kecil tidak dijelaskan secara baku. Hal itu mengingat bahwa pemahaman seseorang terhadap besaran skala peta sangat bergantung pada peran dan fungsi peta yang bersangkutan dalam konteks kepentingan apa. Sebagai contoh, seorang ahli perencanaan tata ruang kota, peta skala 1 : 100.000 dianggap skala kecil, tetapi sebaliknya bagi seseorang ahli ekonomi regional peta skala tersebut sudah dianggap sangat besar.
Namun, untuk kebutuhan praktis dapat dipakai pengelompokan produk peta rupabumi BAKOSURTANAL, sebagai berikut.
Tabel 01. Macam Skala Peta Rupabumi
SKALA PETA
Jarak 1 cm di peta mewakili jarak horizontal di lapangan
1 : 10.000 100 meter
1 : 25.000 250 meter = ¼ km
1 : 50.000 500 meter = ½ km
1 : 100.000 1000 meter = 1 km
1 : 250.000 2.500 meter = 2,5 km
1 : 500.000 5.000 meter = 5 km
1 : 1.000.000 10.000 meter = 10 km
Skala peta/citra merupakan perbandingan jarak di peta dengan jarak sebenarnya yang dinyatakan dengan angka atau garis atau gabungan keduanya. Makin kecil skala suatu peta, maka semakin banyak generalisasi yang perlu dilakukan terhadap peta tersebut dan peta/citra skala besar sudah tidak terpakai lagi.  Hubungan antara skala peta/citra dan tingkat kerincian informasi yang diperoleh adalah bahwa semakin besar skalanya maka semakin rinci informasi yang bisa diperoleh. Skala peta akan mengendalikan tingkat kerincian ketersediaan informasi dasar. Sebagai contoh, peta geologi dapat dibagi menjadi empat jenis (modifikasi dari Barnes, 1981 dan Peters, 1986), yaitu:
  1. Peta tinjau (reconnaissance): dibuat untuk mengetahui sebanyak mungkin geologi sesuatu daerah yang belum dikenali dengan waktu cepat. Peta tersebut biasanya dibuat berskala 1:25.000–1:50.000 kadang lebih kecil lagi.
  2. Peta geologi detil: peta geologi berskala besar, umumnya disusun atau mengacu berdasarkan data peta tinjau atau peta geologi regional dan menggunakan satuan tak resmi, yaitu satuan batuan. Skala-skala peta ini berkisar antara 1:10.000 hingga 1:5.000. Peta-peta ini biasanya dibuat untuk menyelidiki sesuatu masalah geologi yang khusus atau tujuan keekonomian seperti penyelidikan bahan galian.
  3. Peta khusus: berskala besar yang dibuat secara terperinci pada daerah terbatas untuk merekam sifat-sifat khusus geologi. Umumnya peta khusus dibuat untuk tujuan ekonomi, seperti peta daerah peta sebaran lapisan batubara atau bahan galian, peta geologi bawah permukaan, peta geofisika dan geokimia rinci. Umumnya berskala 1:500 hingga 1:2.000.
  4. Peta geologi regional: secara resmi dikeluarkan oleh P3G berskala 1:100.000 dan menggunakan satuan resmi, yaitu formasi. Umumnya peta geologi regional dibuat dibantu oleh fotogeologi secara bersistem, kadang disertai data hasil geokimia, geofisika dan pemboran.
Senarai:
  • Fakta adalah keadaan atau kejadian yang merupakan kenyataan, sesuatu yang benar terjadi atau apa adanya dari suatu obyek dan bersifat bebas nilai.
    • Data adalah fakta yang direkam dengan metode tertentu (agar objektivitas terjamin).
    • Informasi adalah data yang telah diolah untuk suatu kepentingan. Oleh karena itu informasi adalah kekuasaan, artinya barang siapa yang menguasai informasi, maka padanya terletak kekuasaan dan keleluasaan memilih alternatif tindakan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.
Beberapa Cara Menyatakan Skala Peta
Secara umum skala peta dapat dinyatakan dalam dua cara, yaitu:
  1. Cara numerik atau angka, misalnya: 1 : 5000; 1 : 10.000; 1 : 1000.000; dan lain-lain.
  2. Cara grafis, seperti gambar di bawah ini
0          1         2         3         4         5 Km
!_____!_____!_____!_____!_____!
0          1         2         3         4         5 Cm
  1. Cara verbal :
1 cm per 10 km;   1 inch to seven miles
Mencari Skala dari suatu peta yang skalanya tidak tercantum atau tidak diketahui
Ada beberapa cara untuk mencari skala suatu peta yang tidak diketahui skalanya.
  1. Membandingkan dengan peta lain yang daerahnya sama dan tercantum skalanya.
Untuk memudahkan perhitungan dapat digunakan rumus sebagai berikut:


               d1
P2 =  ———– x P1
d2
Keterangan:
P2             = Penyebut skala yang akan dicari
P1             = Penyebut skala yang diketahui skalanya
d1              = Jarak pada peta yang sudah diketahui skalanya
d2 = jarak pada peta yang dicari skalanya
  1. Membandingkan suatu jarak horizontal di lapangan dan jarak yang mewakilinya pada peta.
Contoh:
Jarak Titik A – B dalam peta  = 10 cm
Jarak titik  A – B diukur di lapangan = 5 km (500000 cm)
Jadi skala petanya adalah:
10 cm
Skala peta =  —————
500.000 cm
=      1/50.000     atau skala   1 : 50.000
  1. Dengan cara menghitung jarak dua buah garis lintang (paralel)
Contoh:



Jarak lengkung  1º paralel  di permukaan bumi 110,56 km (111 km)
Jarak  1º di peta diukur dengan penggaris  1,5 cm
Jadi skala peta  tersebut adalah:  1,5 cm : 111 km (11.100.000 cm)
Atau   skala 1 : 7.400.000
  1. Dengan cara menghitung  kontur interval khususnya pada peta rupabumi Indonesia
Contoh:
75
100
125
Peta tersebut di atas memiliki interval kontur  25 m, dengan demikian dapat dihitung skala petanya adalah:
Ci  =  1/2000  x Penyebut skala
25 =  1/2000
=  25 x 2000    =  50.000    atau    1 : 50.000

Memperbesar dan memperkecil skala peta 
Pada dasarnya skala peta dapat kita perbesar daperkecil sesuai keinginan atau kepentingan kita. Ada beberapa cara  yang dapata dilakukan untuk memeperbesar dan memperkecil skala peta,  yaitu:
  1. Dengan sistem grid bujur sangkar (grid square)
  2. Dengan alat pantograph
  3. Dengan foto copy
  4. Dengan menggunakan computer yang dilengkapi dengan perangkas lunak (software GIS) berbasis peta.
Sistem Grid Bujur Sangkar
Cara ini sering juga disebut metode Union Jack
Contoh:

Peta   skala  1 : 50.000    di ubah menjadi 1 : 25.000



















Dengan  alat Pantograf
Suatu alat memperbesar/memperkecil skala yang bekerjanya berdasarkan prinsip paralelogram. Alat ini paling banyak dijumpai di lembaga-lembaga perpetaan. Teknis operasionalnya juga relative mudah, namun sifatnya masih manual.
Dampak Perubahan Skala Pada Peta
Seorang pengguna peta perlu juga memahami dampak perubahan skala dalam membaca peta. Proses pengecilan peta dikenal dengan istilah generalisasi, misalnya dari skala 1 : 50.000 menjadi skala 1 : 25.000 (lihat gambar 01). Generalisasi adalah proses penyerderhanaan peta yang disebabkan adanya pengecilan atau turunan peta dari skala besar ke skala kecil dengan mempertahankan cirri/karakteristik utama dari peta yang bersangkutan.
Adapun ahal-hal yang dilakukan dalam generalisasi adalah : pemilihan, penyerderhanaan, kombinasi, pembesaran.
Gambar 01. Penyederhanaan obyek dengan skala yang berbeda
(dari skala 1 : 10.000 ke  1 : 50.000) dengan cara generalisasi



1)










2)
Detail obyek pada skala 1 : 25.000 tidak dapat dikenali
pada skala 1 : 50.000 –à maka perlu penyederhanaan



Skala 1 : 20.000                                           1 : 10.000
Pembuatan peta skala 1 : 10.000 dari data skala 1 : 25.000
tidak merubah tingkat detail informasi skala 1 : 10.000, artinya
Informasi yang disampaikan tetap informasi skala 1 : 25.000
Contoh merubah skala peta
Masalah umum yang timbul dalam kartografi adalah apabila peta akan diubah skalanya. Pelaksanaannya akan mudah apabila kita selalu ingat akan:
  • Arti atau maksud pada masing-masing skala
  • Bahwa 1 mil = 63.360 inchi dan 1 inci = 2,54 cm
  • 1 mil = 1,60934 km
  • 1 km = 0,621 mil
  • 1 kaki = 0,3048 m
Contoh 1:
Diketahui       : Skala angka  1 : 100.000
Ditanyakan   : ubah ke tipe skala lain
Jawab:
1 inci  pada peta sesuai dengan 100.000 inci  di lapangan atau sesuai
150.000
  • ———–  mil   =  1,36 mil   atau  skala 1 inci : 3,36 mil( 1 inch to 1,36
63.360
Miles)
  • 1 cm pada peta sesuai dengan 100.000 cm di lapangan atau sesuai dengan  1 km di lapangan.
  • Skala grafiknya :       0         1          2          3          4          5 km
!———!——–!——–!——–!——–!
Contoh 2:
Diketahui skala graffik sepanjang 5 cm yang menunjukkan  10 mil
Ditanyakan rubah ke tipe skala yang lain.
Jawab:
  • 5 cm pada peta sesuai dengan 10 mil di lapangan.
5/2,54 inci = ± 2 inci di peta sesuai dengan 10 mil di lapangan.
Skala inci disbanding milnya adalah   1 inci : 5 mil ( I inch to 5 miles)
  • 1 inci pada peta sesuai dengan 5 mil di lapangan atau sesuai dengan
5 x 63.360 = 316.800 inci di lapangan
Skala angkanya adalah:    1 :  316.000
PENGGUNAAN PETA
            Peta merupakan cermiman berbagai tipe informasi muka bumi, sehingga dapat digunakan sebagai sumber data dan informasi spasial yang cukup baik.  Namun demikian untuk dapat menggunakan peta dengan baik diperlukan tuntunan dalam pemakaiannya. Ada tiga tahapan dalam menggunakan peta, yaitu: 1) tahap pembacaan; 2) tahap analisis; dan 3) tahap interpretasi.
  1. Membaca Peta
Membaca peta merupakan tahapan pertama dalam penggunaan peta, yakni mencoba mengidentifikasi symbol, membaca apa arti symbol. Untuk dapat melakukan pekerjaan ini, seseorang harus mengetahui tentang bahasa peta. Bahasa peta adalah informasi tepi peta yang meliputi: judul, nomor lembar peta, skala, orientasi, sumber pembuat peta, proyeksi peta, legenda, administrasi indek.
Dengan demikian begitu melihat symbol di dalam peta, pengguna akan menjadi jelas mengenai makna  ataupun bentuk unsure lingkungan apa yang tergambar dalam peta. Kesalahan yang sering terjadi adalah pengguna langsung berusaha menterjemahkan arti symbol-simbol tanpa mempelajari keterangan/legenda dan informasi tepi yang lain terlebih dahulu.
  1. 2.  Analisis Peta
Di dalam analisis peta, akan lebih baik apabila dilakukan oleh mereka yang mempunyai latar belakang pengetahuan ilmu-ilmu kebumian, antara lain pengetahuan geologi, geomorfologi, pertanian, kehutanan, kerekayasaan dan pakar lain yang berbasis keruangan. Meskipun analisis peta rupabumi dilakukan sesuai tujuan pembuatan peta, tetapi pendekatan utamanya adalah berdasarkan karakteristik geomorfologi.
Untuk sistematika analisisnya perlu memperhatikan tiga hal, yaitu:

1       Analisis harus dikerjakan secara bertahap.

2       Mulailah dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus/detil.
3       Lakukan analisis dari bentuk-bentuk yang paling diketahui (mudah) hingga bentuk-bentuk yang sulit atau belum diketahui.
Cara analisis peta dilakukan dengan memperhatikan pola garis kontur dan data geomorfologi, sehingga pendekatan utamanya adalah berdasarkan karakteristik geomorfologinya. Oleh karena itu, analisis dapat dilakukan secara kuantitatif maupun kualitatif. Demikian pula dengan analisis citra dilakukan dengan memperhatikan unsur dasar pengenalan dan unsur dasar penafsiran dengan pendekatan utamanya adalah berdasarkan karakteristik geomorfologinya. Unsur dasar pengenalan meliputi bentuk, ukuran, pola, bayangan, rona, tekstur, hubungan sekitar dan lokasi. Untuk unsur dasar penafsiran terdiri dari bentuklahan, pola pengaliran, tumbuhan penutup dan hasil budi daya manusia.
Dengan kata lain, analisis peta rupabumi atau citra adalah tindakan penyederhanaan fenomena-fenomena yang kompleks dari pola garis kontur, unsur dasar pengenalan dan penafsiran serta karakteristik geomorfologinya. Kemudian dilakukan pengelompokan untuk menyederhanakan atas dasar kesamaan-kesamaan perwatakan dari struktur geologi, proses geomorfologi dan kesan topografi. Analisis peta atau citra merupakan langkah awal dari evaluasi yang didasarkan pada identifikasi dan interpretasi pola garis kontur, unsur-unsur pengenalan dan penafsiran serta karakteristik geomorfologinya.
Perolehan data dari peta atau citra dapat dijadikan data dasar untuk analisis lanjutan yang evaluasinya dapat dilakukan secara manual maupun Sistem Informasi Geografi (SIG). Untuk analisis data yang telah diproses harus memperhatikan macam, banyak, sebaran dan validitas data.
  1. 3.  Interpretasi Peta
Interpretasi peta merupakan perbuatan mengkaji peta dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek sesuai tujuan dan latar belakang pengetahuan si penafsir. Dengan kata lain, interpretasi adalah mengungkap sesuatu dibalik fakta. Jadi interpretasi itu ilmiah.
Sehingga dapat dijelaskan bahwa interpretasi peta atau citra adalah:
  1. Berupaya melalui proses penalaran atau mendeteksi, mengidentifikasi dan menilai arti penting obyek yang tergambar pada peta.
  2. Berupaya mengenali obyek yang tergambar pada peta dan menterjemahkan kedalam disiplin ilmu tertentu seperti geologi, geografi, pertanian, kehutanan, ekologi, hidrologi dll.


Langkah-Langkah Interpretasi Peta
Terdapat tiga rangkaian kegiatan utama dalam interpretasi, yaitu:
  1. Deteksi: bersifat global, yaitu pengamatan atas adanya suatu obyek misal sungai, bukit, lembah, gawir, dll.
  2. Identifikasi: bersifat agak terperinci, yaitu upaya mencirikan obyek yang telah dideteksi dengan menggunakan keterangan yang cukup, misal  gosong sungai, bukit terisolasi, lembah antiklin, gawir sesar, dll.
  3. Analisis: pengenalan akhir atau terperinci yaitu tahap pengumpulan keterangan lebih lanjut.
  4. Mulailah dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus/rinci
  5. Lakukan analisis dari bentuk-bentuk yang paling diketahui (mudah) hingga bentuk-bentuk yang sulit atau belum diketahui.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar